Jumat, 30 Januari 2009

BILANGAN GENAP DAN BILANGAN GANJIL



“Demi fajar, dan malam yang sepuluh,dan (demi) asy-syaf’u (yang genap) dan al-watru (yang ganjil) (QS. 89 : 1 - 3)

Apabila Allah SWT bersumpah dengan sesuatu berarti untuk menunjukkan kemulian atau keagungan sesuatu tersebut. Misalnya Allah bersumpah ‘demi malam apabila gelap-gulita’, ‘demi waktu ashar’, ‘demi waktu fajar’ dan yang lainnya yang semuanya menunjukkan arti pentingnya waktu-waktu tersebut. Begitu juga Allah bersumpah dengan asy-syaf’u dan al-watru.

Dalam ‘At-tafsir al-munir’nya Wahbah Zuhaili dijelaskan, asy-syaf’u berarti az-zauj (segala sesuatu yang memiliki pasangan) seperti siang-malam, pagi-sore dan yang lainnya. Biasa juga dipakai dalam bilangan sebagai bilangan genap. Dan al-watru/al-witru berarti al-fardu (yang sendiri/tidak memiliki pasangan) atau dalam bilangan biasa disebut sebagai bilangan ganjil.

Tahukah kita mengapa Allah SWT bersumpah dengan yang ganjil dan yang genap? Ada apakah di balik ini semua? Kalau kita belajar matematika tentu tidak asing dengan istilah bilangan genap dan bilangan ganjil. Sejauh manakah arti pentingnya kedua hal tersebut (asy-syaf’u dan al-watru )?

Ada hikmah apakah dibalik yang genap dan yang ganjil?

Pertama, Allah suka yang witir (ganjil)

Allah SWT menyukai yang ganjil dalam banyak hal. Misalnya nama-nama Allah yang baik biasa disebut dengan ‘asmaul husna’ yaitu ada 99 nama. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW ber sabda, “Dan Allah memiliki sembilanpuluh sembilan nama seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal dan mentafakurinya) akan masuk surga. Dia itu Witir(ganjil) dan menyukai yang ganjil ” (HR. Bukhary-Muslim)

Dari Ali radhiallahu anhu berkata, “Shalat witir itu tidak diharuskan sebagaimana shalat fardhu, tetapi Rasulullah SAW selalu mengerjakannya serta bersabda’“Sesungguhnya Allah itu witir (esa/ganjil) dan suka pada yang ganjil” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi)

Shalat witir itu shalat sunnah yang jumlah rakaatnya ganjil.

Dalam masalah ‘Aqiqah juga lebih afdhal dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi meski pada hari lainnya diperbolehkan.

Dan Allah SWT juga menciptakan langit dan bumi tujuh lapis, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi…” (QS. 65:12), “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis…” (QS.67:3) “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” (QS.71:15)

Sebagaimana Allah juga menjadikan hari ada tujuh dalam sepekan, neraka Jahannam ada tujuh pintu (QS.15:4).

Bahkan bagi orang yang berumrah jika tidak bisa berkurban diwajibkan berpuasa 3 hari dalam masa haji dan 7 hari sepulangnya. Sehingga sempurnalah 3 + 7 = 10 hari. (QS. 2 : 196)

Kedua, Bilangan Genap dan Bilangan Ganjil dalam Al-Qur’an

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa jumlah surah dalam Al-Qur’an itu ada 114 surah, 86 golongan surah Makiyyah dan 28 golongan Madaniyyah. Dan intisari dari semua surah ada pada Surah ke-1 (Al-Fatihah) yang oleh Rasulullah disebut sebagai Ummul kitab (induk Al-Kitab) yang jumlah ayatnya ada 7 sehingga juga dikenal dengan sab’ul matsaniy (tujuh yang diulang-ulang).

Di dalam Al-Qur’an secara tekstual menyebutkan angka-angka. Misalnya

angka 11 dalam mimpi nabi Yusuf, (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (QS.12:4)

Berbeda dengan dunia perdukunan atau klenik yang membenci angka ganjil seperti angka 13 yang dianggap sebagai angka pembawa sial. Padahal kalau kita hitung dari mimpi Nabi Yusuf justeru sebaliknya, 11 bintang + 1 matahari + 1 bulan = 13.

Dan perlu diingat bahwa dalam Islam tidak dikenal angka keberuntungan ataupun angka pembawa sial. Semua angka atau bilangan –baik genap maupun ganjil- itu baik. Karena itulah arti pentingnya Allah SWT bersumpah dengan yang genap dan yang ganjil (QS.89:3) dengan didahului ayat sebelumnya yang di dalamnya ada angka genap yaitu, “dan (demi) malam yang sepuluh yang diartikan sebagai malam-malam Dzul Hijjah yang memiliki banyak keutamaan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu ‘Abbas, “Tidak ada amal sholeh di hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah selain hari-hari ini -10 hari di bulan Dzil hijjah- Para sahabat bertanya, “Sekalipun jihad di jalan Allah? Rasulullah menjawab, “sekalipun jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak pernah kembali lagi (syahid fii sabilillah)”.

Ketiga, logika perkalian dalam matematika

Dalam kaidah perkalian bisa kita tarik kesimpulan demikian;

a) bilangan ganjil jika dikalikan dengan bilangan ganjil akan menghasilkan bilangan ganjil. Contoh: 3 x 7 = 21, 9 x 11 = 99

b) bilangan genap jika dikalikan dengan bilangan genap akan menghasilkan bilangan genap pula. Contoh : 6 x 8 = 48, 22 x 44 = 968

c) bilangan ganjil jika dikalikan dengan bilangan genap akan menghasilkan jumlah bilangan genap dan berlaku juga pada sebaliknya. Contoh; 5 x 4 = 20, 8 x 3 = 24

Maka kalau boleh dianalogikan bilangan ganjil sebagai kebenaran dan bilangan genap sebagai kebatilan akan menghasilkan demikian;

a) kebenaran x kebenaran = kebenaran (jalan yang lurus, kebenaran sejati yang datang dari Allah SWT yang menyukai yang ganjil)

b) kebatilan x kebatilan = kebatilan(jalan kesesatan, sumber kebatilan yang datang dari Iblis/Syaitan)

c) kebenaran x kebatilan = kebatilan (kebenaran tidak boleh dicampur aduk dengan kebatilan)

Kesimpulannya, setidaknya kita memahami bahwa kebenaran itu telah nyata datangnya dari Allah SWT, “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”(QS.2:147) sedangkan kebatilan itu datangnya dari syaitan, “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar (akan menyesatkan) mereka dari jalan engkau yang lurus” (QS. 7 : 16), dan antara kebenaran dan kebatilan tidak bisa dicampur aduk, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”(QS.2:42)

Kita manusia yang memiliki akal sehat dipersilahkan oleh Allah SWT untuk memilih salah satu jalan dari dua jalan tersebut.

Firman-Nya;

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (kebatilan) dan ketakwaannya (kebenaran), sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS.91:7-10)

Wallahu a’lam bish shawab

Senin, 26 Januari 2009

WARNA-WARNI KEHIDUPAN


img_0752


Mamah, Kak Ety, Edy, dan Eksan,

semoga Allah senantiasa melindungi kita dari tipu daya setan

dan hasutannya untuk menceraiberaikan hati kita meski kita berjauhan.


Akhwat dan Ikhwan fillah,

tidak ada yang lebih membahagiakan selain perjumpaan kita

dalam semangat ukhuwah islamiyyah

menggali ilmu dien dan menebarkannya dalam warna-warni kehidupan.


Usrohku, MIPA Kimia Unibraw'89

kan slalu kukenang dalam warna-warni kehidupanku

kala merengkuh cinta di jalan Allah,

mendulang manisnya iman.

Semoga kan berakhir manis pula.








Minggu, 25 Januari 2009

KETIKA KHADIJAH JATUH CINTA PADA MUHAMMAD

sakura Pictures, Images and Photos

Wanita mana yang tidak terpikat oleh pemuda seperti ini? Ia tampan, kaya, cerdas, keturunan orang terhormat, dan paling mulia akhlaknya di Jazirah Arab.Menjelang tengah hari, sebuah kafilah dagang dari negeri Syam tiba di Makkah. Tak lama kemudian kafilah dagang itu memasuki pelataran sebuah rumah besar dan bagus.

Dari dalam terlihat seorang wanita berusia bergegas ke luar dan menyambut kafilah dagang yang sangat dinantikannya. Dari mimik mukanya tampak gurat-urat kegembiraan. Tak lama kemudian, terjadi percakapan antara wanita yang bernama Siti Khadijah itu dengan Muhammad bin Abdullah, pemuda yang memimpin kafilah dagang. Didengarkannya pemuda Muhammad berbicara dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanan dagangnya ke negeri Syam, serta keuntungan yang diperoleh dari perdagangan tersebut. Demikian juga, Khadijah mendengar penjelasan Muhammad tentang barang-barang dari Syam yang berhasil ia bawa beserta kafilahnya. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali mendengarkan cerita tersebut.

Sesaat kemudian datanglah Maisarah; orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Semua yang diceritakan Maisarah makin menambah pengetahuan Khadijah tentang Muhammad.Sebelumnya, Khadijah pun tahu bahwa Muhammad adalah sosok pemuda yang sangat mulia akhlaknya. Dalam waktu yang singkat, rasa simpati itu berubah menjadi rasa cinta. Khadijah tertarik untuk menjadikan Muhammad bin Abdullah sebagai pendamping hidup.

Apa yang menyebabkan Siti Khadijah simpati lalu jatuh hati pada sosok pemuda Muhammad? Bukankah Khadijah adalah seorang konglomerat wanita terkaya di Makkah saat itu, sedangkan Muhammad hanya seorang ‘pemuda biasa’? Mengapa pula Khadijah ‘berani’ menjadikan Muhammad sebagai suami, bahkan ia yang berinisiatif melamarnya, padahal sebelumnya banyak pembesar Quraisy yang mengajukan lamaran, dan semuanya ditolak?

Ada beberapa faktor penyebab. Pertama, faktor kesepadanan atau kesekufuan. Adalah sesuatu yang wajar bila seseorang jatuh cinta pada orang yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya daripada perbedaan. Orang pun akan cenderung memilih pendamping hidup yang sekufu (sederajat), baik dari sisi harta, ideologi, gaya hidup, keilmuan, dan kepribadian.

Khadijah mencintai Rasulullah SAW, boleh jadi, disebabkan karena Muhammad Rasulullah SAW memiliki banyak ‘kesamaan’ dengan dirinya. Khadijah adalah wanita mulia, Muhammad SAW pun seorang lelaki mulia, sehingga Khadijah pun cenderung memilih pendamping yang akhlaknya mulia. Khadijah adalah seorang konglomerat, sedangkan Rasul seorang entrepreneur dan marketer yang hebat. Rasul berasal dari keturunan orang-orang terpandang, begitupun Khadijah. Kedua karakter yang memiliki banyak kesamaan ini jelas lebih mudah bersatu. Di luar ketentuan Allah SWT, Khadijah tertarik pada Rasulullah SAW karena beliau adalah seorang profesional. Sampai usia 25 tahun, Rasul telah melewati tahap-tahap kehidupan sebagai seorang profesional di bidangnya (pedagang).

Mengkaji pribadi Rasulullah SAW, kita akan mendapatkan jiwa entrepreneurship yang sudah dipupuk sejak usia 12 tahun, tatkala pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke Syam, negeri meliputi: Suriah, Yordania, dan Lebanon saat ini. Demikian juga sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar bersama pamannya, Beliau telah ditempa untuk tumbuh sebagai seorang wirausahawan yang mendiri. Maka ketika pamannya tidak bisa lagi terjun langsung menangani usaha, pada usia 17 tahun Muhammad telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Kedua, dilihat dari segi fisik Rasulullah SAW sangat sulit dikatakan jelek. Muhammad Husein Haikal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad dengan baik menggambarkan bagaimana indahnya wajah Rasulullah SAW.

“Paras mukanya manis dan indah, perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang besar, berambut hitam antara keriting dan lurus. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam, di tepi-tepi putih matanya agak kemerah-merahan, tampak lebih menarik dan kuat; pandangan matanya tajam dengan bulu mata yang hitam pekat. Hidungnya halus dan merata dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebat sekali, berleher agak panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya yang tebal. Bila berjalan badannya agak condong ke depan, melangkah cepat, dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan, hingga membuat orang patuh kepadanya.”

Ketampanan Rasulullah SAW terasa makin lengkap dengan gerak-geriknya yang menawan. Dikisahkan pula oleh Ummu Ma’bad bagaimana sikap beliau, tatkala ia melihat Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah: ”Aku melihat seorang lelaki dengan wajah berseri-seri dan bercahaya… Jika ia diam maka tampaklah kharismanya. Jika sedang berbicara, ia tampak begitu agung dan santun. Ia tampak paling muda dan paling rupawan bila dipandang dari kejauhan, juga paling tampan dan memesona di antara rombongannya. Ucapannya menyejukkan, perkataannya jelas; tidak sedikit dan tidak pula bertele-tele, sebagai buah dari kecerdasan. Beliau adalah orang yang paling menarik dan kharismatik di antara ketiga sahabatnya (Abu Bakar dan seorang penunjuk jalan).”

Keindahan perilaku Rasulullah SAW bersumber dari kemuliaan akhlak dan kejernihan jiwa. Inilah faktor ketiga yang membuat Khadijah jatuh cinta. Muhammad adalah sosok pemuda berakhlak mulia, bahkan puncak dari akhlak yang mulia. Dengan karunia Allah SWT, dalam diri beliau terkumpul semua akhlak terpuji yang dikenal manusia: kejujuran, kedermawan, ataupun kelembutan. Tak ada satu sisi pun dalam diri beliau tanpa budi pekerti yang luhur. Akhlak Rasulullah SAW adalah sebuah keistimewaan, hingga beliau ‘meringkas’ misi dakwahnya dalam sebuah hadis, ”Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR Bukhari dan Hakim).

William Moir, seorang pujangga asal Prancis, mengungkapkan bagaimana indahnya akhlak Rasulullah SAW. Ia berkata, “Sederhana dan mudah adalah gambaran seluruh hidupnya. Perasa dan adabnya adalah sifat yang paling menonjol dalam pergaulan beliau dengan pengikutnya yang paling rendah sekalipun. Tawadhu, sabar, penyayang, dan mementingkan orang lain lagi dermawan adalah sifat yang selalu menyertai pribadinya dan menarik simpati orang di sekitarnya. Tidak seorang pun di sampingnya yang merasa bahwa ia tidak memperhatikannya secara khusus, meski orang itu adalah seorang gembel. Jika bertemu dengan orang yang berbahagia karena suatu keberhasilan, maka ia menggengam tangannya dan ikut merasakan kegembiraan. Jika bersama dengan orang yang tertimpa musibah dan dirundung kesedihan, beliau pun ikut larut merasakan kesedihan mereka. Beliau sangat perasa dan pandai menghibur.” Karenanya, wanita mana yang tidak terpincut oleh pemuda seperti ini?

Allahumma Shali Wa Shalim Wa Baarik Alaihi…
Sebaik-baik teladan bagi manusia

Dicuplik dari: http//yossyrahadian.wordpress.com

HAK-HAK ISTRI TERPELIHARA DALAM NAUNGAN RUMAH TANGGA ISLAMI

sakura Pictures, Images and Photos

Bismillah

OLEH

USTADZ ABU MINHAL


Syari'at
Islam telah menetapkan hukum-hukum yang menjamin hak-hak wanita dalam rumah tangga. Hukum-hukum tersebut bersifat mengikat, dan merupakan rambu-rambu yang haram dilanggar. Penetapan itu bertujuan untuk memelihara hak-hak istri, menepis tindak aniaya yang mungkin menimpanya, atau kemungkinan terjadi lantaran adanya kurang perhatian dalam pelaksanaannya dari orang-orang yang berkaitan dengan wanita, baik suami, walinya maupun lainnya. Adapun pada pembahasan ini, secara khusus difokuskan pada hubungan antara istri dengan suaminya saja.


Sangat banyak hak yang dimiliki seorang wanita sebagai istri. Hak-hak ini menjadi kewajiban atas suaminya. Sebagian dari hak-hak tersebut telah disinggung Rasulullah Shalallahu Alahi Wassalam dalam hadist berikut:

"Hak wanita-wanita atas kalian (para suami) ialah memberi nafkah, menyediakan sandang dengan cara yang baik." (HR. Abu Dawud)

Demikian itulah keistimewaan yang sangat penting bagi wnaita muslimah yang berstatus sebagai istri. Yakni kepastian adanya jaminan pemeliharaan yang utuh terhadap hak-haknya dalam rumah tangga, dan sama sekali tidak ada padanannya dengan undang-undang produk manusia.

Dalam Islam, terdapat beberapa aspek yang mendukung pelaksanaan tanggung jawab suami atas pasangan hidupnya. Tanggaung jawab tersebut merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh islam (hak-hak istrinya) dan dijelaskan dalam nash-nash yang sharih (tegas dan jelas, tidak mengandung multi fungsi).

Dari sisi aqidah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Mengetahui isi hati manusia dalam kesendiriannya maupun saat bersama dengan orang lain. Dia akan membalasnya dengan baik jika memenuhinya, sebagaimana akan menghukumnya atas keengganannya dalam menjalankan kewajiban itu. Selain itu hak-hak sesama tersebut bagaikan hutang yang mesti dilunasi. Seorang yang gugur di medan perang (mati syahid) akan menghadapi persoalan karena hutang, apalagi selamanya.

Adapun hukum-hukum produk manusia yang membicarakan hak-hak istri, tidak mempunyai kekuatan pendorong sebagaimana tertera diatas. Karena, akan dapat disaksikan, lelaki mudah berkelit dari kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan bagi istrinya sendiri. Gejala ini muncul tatkala terjadi pertikaian dan perbedaan pendapat mengenai pemenuhan kewajiban-kewajiban tersebut, karena tidak ada rasa takut kepada Allah Ta'ala dan tipisnya keimanan terhadap hari akhir.

Berikut ini, beberapa kutipan ayat dan hadist yang memuat keterangan tentang kewajiban suami terhadap istrinya, ancaman bagi pihak yang tidak memperhatikannya, saat mereka mengarungi biduk rumah tangga.

Pertama
Diantara dalil tentang kewajiban menyelesaikan hak-hak orang lain secara umum, dan menyelesaikan hak-hak istri secara khusus.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

"Sesungguhnya Allah menyururh kamu menyampaikan amanat kepada berhak menerimanya..."(QS. an-Nisa :58)

Kebanyakan ayat-ayat yang berbicara tentang hak-hak istri berbentuk kalmat perintah. Ini menunjukan betapa kuatnya penekanan untuk masalah ini.

Allah berfirman:

"Berikanlah mas kawin (mahar) keada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan..."(QS. an-Nisa:44)

"...Dan bergaulah demga mereka secara patut..." (QS. an-Nisa:19)

"Tempatkanlah mereka (para isteri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu..."(QS. ath-Thalaq: 6)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Bertakwalah kalian kepada Allah tentang kaum wanita. Sesungguhnya, kalian mengambil mereka denagn amanat Allah. Dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimatullah." (HR, Muslim)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wssalam bersabda:

"Berpesanlah untuk wanita dengan baik." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kedua
Diantara dalil larangan menelantarkan hak-hak istri dan melakukan tindakan aniaya kepadanya.

Beberapa ayat menerangkan larangan menzhalimi istri dan mengabaikan hak-haknya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"...dan jangan \lah kamu menusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya..."(QS. an-Nisa:19)

"Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepadanya seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata." (QS. an-Nisa :20)

"...maka janganlah kamu (para wali) mengahlangi mereka kawin lagi dengan bakal calon suaminya, apabila telah terdapat kerelaan diantara mereka dengan cara yang ma'ruf..." (QS al Baqoroh :232)

Ketiga
Nash-nash yang menerangkan hukuman dan siksa bagi orang yanmg melanggar ketentuan-ketentuan Allah dalam masalah ini dengan cara menindas wanita, tidak memenuhi atau mengurangi hak-hak wanita.

"....Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Alalh, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (QS. al-Baqoroh: 229)

"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalau mereka meendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memeberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai mainan..." (QS. al Baqoroh :231)

Nash-nash diatas memuat takhwif (ancaman menakutkan ) dan pesan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, Allah berfirman:

"...itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang berimandiantara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. al baqoroh:232)

Sementara itu, ancaman juga muncul dari lisan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang mulia atas suami yang berbuat tidak adil dan meremehkan hak seseorang istri. Rasulullah Shalallahu Alahi Wassalam bersabda: 'Barang siapa mempunyai dua istri, dan lebih condong pada salah satu istrinya, ia akan datang pada hari Kiamat dengan menyeret salah satu dagunya atau datang dengan jalan miring." (HR. Ahmad, at Tirmidzi, an Nasai. Lihat shahih at Targhib (2/199).).

Demikian sedikit paparan beberapa dalil yang menegaskan tentang pemeliharaan hak-hak istri dalam rumah tangga. Keretakan rumah tangga hanya muncul ketika ada salah satu pihak (atau kedua belah pihak, suami istri ) tidak menjalankan kewajiban-kewajiban yang seharusnya ia emaban dan lebih condong hanya untuk hak-hak nya semata.

Wallahu a'lam.


(Diadaptasi dari Dhamanatu Huqiqi al Mar'ati az zaujiyyah, karya Dr. Muhammad Ya'qub Muhammaad ad Dahlawi, penerbit Jami'ah Islamiyyah Madinah cetakan I tahun 1424 H)

Sumber: Majalah Assunnah edisi 11 tahun XI 1429H

MENDIDIK DIRI DENGAN WASIAT NABI




Oleh Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf







Tidak diragukan lagi, masing-masing kita mendambakan terciptanya suasana kebahagiaan, kebersamaan, dan ketentraman baik dalam urusan dunia maupun agama bahkan negara. Banyak usaha yang dilakukan tetapi nyatanya tidak menghasilkan apa yang diharapkan, sementara kita meyakini bahwa tidak ada satu kesulitan pun kecuali pasti ada jalan keluarnya. Allah berfirman, "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS Asy Syarhu / Alam Nasyrah: 6).

Allah juga berfirman, "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS Ath Thalaq: 4). Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda dalam hadits Ibnu Abbas, "Ketahuilah, bahwasanya kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Sudah saatnya untuk kita bercermin kepada segala upaya yang dikerahkan dalam membina kehidupan di keluarga, lingkungan, masyarakat, dan lebih luasnya lagi negara. Sudahkah kita jujur kepada Allah dan KitabNya, kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan Sunnahnya, dalam hal aqidah, akhlaq, ibadah, dan muamalah? Dimana hal ini adalah pintu masuk ruang kebahagiaan dan kebersamaan.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir, tidaklah meninggalkan umatnya kecuali telah menerangkan apa yang dibutuhkan mereka dalam membangun kehidupan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, inilah kesempurnaan dien.

Allah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatku dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al Maaidah: 3).

Allah juga berfirman, "Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS An Nahl: 89). Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah, serta Ad Darimy dari sahabat Abu Najih Al Irbadh bin Sariyah berkata, "Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Maka kami bertanya, 'Wahai Rasulullah! Seakan-akan nasehat ini adalah nasehat yang terakhir maka berilah kami wasiat.' Nabi bersabda, 'Aku wasiatkan padamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, serta tetap mendengar perintah dan taat, walaupun yang memerintah kamu itu seorang budak, maka sesungguhnya orang yang masih hidup di antaramu nanti akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu memegang teguh akan Sunnahku dan perjalanan para khulafa ar rosyidin yang diberi petunjuk, peganglah olehmu sunnah-sunnah itu dengan kuat dan jauhilah olehmu bid'ah, sesungguhnya segala bid'ah itu sesat.'"

Sungguh Rasulullah telah memberikan nasehat yang agung dan wasiat yang sempurna ini kepada umat Islam dimana beliau beliau menunjukkan mereka kepada perkara-perkara yang besar, tidak akan tegak urusan dien dan dunia kecuali dengan komitmen terhadapnya dan mengikutinya. Tidak ada jalan keluar dari problematika kehidupan kecuali dengan mengamalkannya dengan seksama di zaman yang dipenuhi dengan tipu daya, dibenarkannya para pendusta dan didustakannya orang-orang yang jujur, serta dipercayanya para pengkhianat dan dikhianatinya orang-orang terpercaya.
Sungguh sangat disesalkan tatkala terlihat mayoritas umat Islam sudah tidak bersandar lagi kepada Al Qur'an tidak pula kepada Sunnah dalam aqidahnya, di saat semaraknya orang-orang yang berhati setan dan bertubuh manusia serta memuncaknya kebid'ahan-kebid'ahan, wallahul musta'an. Adapun wasiat-wasiat yang disampaikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam itu ialah:

Pertama: tidak ada dien kecuali dengan taqwa yaitu taat kepada Allah, melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Taqwa adalah sebab dipermudahnya segala urusan dien dan dunia serta dibukanya berkah dari langit dan bumi. Allah berfirman, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS Al A'raaf: 96).

Kedua: tidak akan tegak urusan-urusan umat baik dunia maupun dien kecuali dengan pemimpin yang sholeh, adil, menuntun mereka kepada Kitab dan Sunnah Rasulullah, menerapkan di tengah-tengah mereka syariat Allah, mengatur barisannya dan menyatukan kalimatnya serta mengangkat bagi mereka bendera jihad untuk meninggikan kalimat Allah. Sedangkan atas umat agar menerima dengan penuh taat baik dalam hal yang disukai maupun dibenci, selama pemimpin itu istiqomah di atas perintah Allah dan menjalankan hukum-hukumNya.

Demi merealisir kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, menjaga kesatuannya dan melindungi darah-darahnya. Islam mewajibkan taat dalam hal yang ma'ruf (baik) atas umat terhadap waliyul amri / pemerintah sekalipun mereka bermaksiat, selama kemaksiatannya tidak sampai pada kekafiran.

Ketiga: Wasiat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mencakup sikap yang harus dilakukan umat dari perselisihan dan terhadap orang yang menyelisihi Al Haq, beliau menunjuk agar berpegang teguh dengan Al Haq dan kembali kepada manhaj yang benar, manhaj Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para khulafa ar rosyidin RA. Tidaklah Sunnah dan manhaj mereka kecuali Kitabullah -yang tidak pernah didatangi kebatilan dari arah depan maupun belakang- serta Sunnah Rasulullah yang suci. Allah berfirman, "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS At Taubah: 100). Inilah solusi yang benar yang dapat menghentikan perselisihan dengan cara yang diridhoi Allah.

Keempat: Wasiat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam juga meliputi peringatan terhadap bid'ah, sangat sering beliau memperingatkan umatnya dari bahaya dan kerusakan yang ditimbulkannya dengan penjelasan yang gamblang bahwa bid'ah adalah kesesatan.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- demikianlah kita mesti memulai untuk menyadarkan dan mendidik setiap diri-diri kita agar kembali kepada wasiat Allah dan RasulNya, kembali kepada konsep hidup nabawi, bersungguh-sungguh untuk menegakkan ibadah kepada Allah dan membuktikannya, sehingga akan terciptalah kebaikan dalam diri kita, dalam diri istri-istri kita, dan dalam keluarga kita.

Ketahuilah bahwa:
baiknya diri adalah baiknya keluarga
baiknya keluarga adalah baiknya masyarakat
baiknya masyarakat adalah baiknya lingkungan
baiknya lingkungan adalah baiknya negara
baiknya negara adalah baiknya umat
baiknya umat adalah baiknya alam secara keseluruhan bi idznillah.
Wal ilmu indalllah.

Sabtu, 24 Januari 2009

30 MENIT PERTAMA YANG BERHARGA

Saat terbaik memberi stimulasi

Periode emas pertama pertumbuhan otak dimulai beberapa saat setelah terjadinya konsepsi. Pada saat ini proses tumbuh kembang otak melaju dengan pesat. Nah, periode emas kedua terjadi di akhir kehamilan sampai bayi lahir berusia kurang lebih dua tahun. Pada periode ini, semakin awal sel otak dirangsang, semakin banyak terjadi network di antara sel-sel saraf tersebut.

Nah, bila bayi segera disusui dan didekap dengan hangat, maka ia akan menerima berbagai stimulasi, seperti sentuhan kulit (skin to skin contact) dan mencium aroma khas ibunya. Ia juga akan merasakan kehangatan dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenalnya sejak masih dalam kandungan. Hasilnya? Otak dan sistem saraf si kecil pun berkembang dengan optimal.

Belum lagi kalau ibu mengajaknya berbicara selama menyusui, terutama mengenai dirinya, akan t erjalin komunikasi langsung antara ibu dan si bayi. Ini akan meningkatkan kelekatan (attachment) di antara mereka. Kondisi ini akan menumbuhkan rasa percaya pada si kecil, karena ia tahu ada seseorang yang selalu ada apabila dibutuhkan.

Menyempurnakan fungsi neurologis

Koordinasi saraf menelan, mengisap dan bernapas pada bayi baru lahir bisa jadi belum sempurna. Dengan sesegera mungkin memberi kesempatan mengisap payudara, maka fungsi koordinasi saraf-saraf tersebut jadi lebih cepat sempurna.

Refleks isap paling kuat

Asal tahu saja, refleks isap bayi paling kuat adalah pada 30 menit setelah dia dilahirkan. Isapan bayi pada puting ibunya akan merangsang pengeluaran hormon prolaktin (yang merangsang produksi ASI) dan hormon oksitosin (yang merangsang refleks pengeluaran ASI). Kerja kedua hormon tersebut akan membuat kolostrum lebih cepat keluar.

Kolostrum atau ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-10 atau ke-14, mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan tubuh (antibodi) dalam jumlah yang banyak dibandingkan ASI yang keluar pada hari-hari berikutnya. Dengan demikian, bayi akan terlindung dari penyakit infeksi, dan memperoleh kekebalan tubuh.

Mencegah perdarahan dan anemia

Selain merangsang produksi dan pengeluaran ASI, pengeluaran hormon juga akan menyebabkan rahim berkontraksi. Jadi, dengan menyusui bayi segera setelah lahir, kita akan mencegah terjadinya perdarahan paska persalinan, dan proses pengerutan rahim berlangsung lebih cepat. Bila perdarahan paska persalinan tidak terjadi atau berhenti lebih cepat, maka risiko kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu (akibat kekurangan zat besi), juga akan berkurang.

Penting diingat bahwa bayi harus dibiarkan menyusu sepuas dan sesering mungkin tanpa jadwal yang ketat. Semakin kuat dan sering isapan bayi, semakin lancar dan cepat pemantapan proses menyusui.

Selain itu, sedapat mungkin, ayah, ibu dan bayi tidak banyak menerima tamu dalam 2 hari pertama. Waktu tersebut sebaiknya digunakan untuk memberi stimulasi yang sebanyak-banyaknya pada bayi, serta memberi ASI secara optimal.

Bila Anda tidak yakin apakah bayi mengisap ASI dengan baik, atau tetap penasaran dengan kecukupan produksi ASI Anda, jangan segan bertanya pada konsultan laktasi, dokter atau bidan. Semakin tinggi rasa percaya diri Anda, semakin besar kenyamanan dan kebahagiaan yang Anda rasakan saat menyusui sang buah hati tercinta.

Sumber: NAKITA

Jumat, 23 Januari 2009

MEMBERSIHKAN KEPALA BAYI

Seluruh tubuh bayi maupun kepalanya memang sangat sensitif dari bahan-bahan maupun sentuhan yang kasar. Karena itulah kita perlu hati-hati dalam menangani hal-hal yang menyangkut perawatan bayi. Salah-salah bermaksud mengobati malah menambah parah kondisinya.
Kepala bayi sangat mudah kotor dan dilapisi kerak semacam ketombe. Sering dikeramasi kadang belum cukup membantu untuk membersihkannya. Apalagi bayi yang rentan sakit panas tentu banyak orang tua yang khawatir mengeramasinya sehingga timbul kerak di kepala bayi. Untuk membersihkannya kita oleskan baby oil pada kepala bayi dengan kapas secara perlahan. Bagi bayi yang sensitif terhadap baby oil, kita ganti dengan minyak kelapa buatan sendiri. Pengolesan dengan minyak dilakukan secara merata dan kapasnyapun perlu diganti-ganti. Sesekali lakukan penyisiran dengan lembut menggunakan sisir bayi agar kotoran di kepala bayi dapat terangkat semua. Setiapkali sisir tampak kotor perlu dibersihkan lagi dengan sikat lalu digunakan kembali untuk mengangkat kotoran di kepala bayi sehingga benar-benar terlihat bersih. Selanjutnya dikeramasi kalau bayi tidak sedang panas. Setelah selesai dikeramasi, kepala bayi diolesi dengan hair conditioner khusus untuk bayi, menggunakan tangan yang bersih. Selamat mencoba.